Karya yang begitu megah dan populer dari Monumen Selamat Datang yang berdiri di tengah kolam air mancur Bundaran Hotel Indonesia di kawasan Sudirman. Menjadi icon penyambutan kepada seluruh masyarakat sebagai simbol keramahan dan keterbukaan Kota Metropolitan Jakarta untuk warga Indonesia dan warga manapun yang bertandang ke Jakarta. Patung tersebut menjadi simbol keberadaan Kota Jakarta yang menjadi tempat berkumpulnya kaum urban dan pusat pemerintahan. Bahkan menunjukkan persiapan yang matang terhadap menyambut tamu dan segala event yang di adakan di Jakarta.
Hampir semua orang yang bertandang ke Kota Jakarta ingin mengabadikan patung ini, sebagai bukti bahwa orang luar Jakarta pernah menginjakkan kaki di Ibu Kota.
Siapakah orang yang berperan saat awal terciptanya patung perunggu ini sampai berdiri megah? Berawal dari goretan sketsa seorang tokoh seniman pelukis di Jaman pemerintahan Soekarno, yaitu Henk Ngantung (1921-1991) yang selain seorang seniman pelukis juga seorang Wakil Gubernur DKI pada Tahun 1960-1964 dan Gubernur DKI dari Tahun 1964-1965.
Menurut Ibu Evi , istri dari Bapak Henk Ngantung, yang sempat berbincang secara pribadi usai acara talkshow Kick Andy Tanggal 9 Mei 2012 lalu, Henk Ngantung adalah seorang seniman yang loyal. Bahkan ketika beliau bekerja menjadi wartawan media, mengambil gambar atau dokumentasi foto dengan membuat sketsa pada kertas, wartawan lain sibuk potret sana sini sementara beliau menorehkan sketsa-sketsa terhadap apapun yang di hunting untuk bahan berita. Kala itu Presiden Soekarno melihat banyak potensi dalam diri Henk Ngantung dalam hal kepemimpinan, disamping itu ada citarasa seni yang kuat dalam dirinya, sehingga Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI pada Tahun 1960-1965. Dengan harapan Henk Ngantung bisa menjadikan Jakarta Kota yang indah dan berwawasan seni, mengingat dirinya seorang seniman.
Maka ketika proyek pembuatan Patung selamat Datang ini dibuat, orang pertama yang memberi kontribusi adalah Henk Ngantung, beliau membuat sketsa ini dan finishingnya dibuatlah patung perunggu Selamat Datang oleh seorang pemahat.
Sebuah karya yang terlahir dari belakang layar dan banyak dilupakan orang padahal kontribusinya sangat nyata dan berpengaruh terhadap peradaban Kota Jakarta yang berjangka panjang. Bahkan sudah menjadi asset bagi Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya. Ibu Evi Henk Ngantung mengatakan , “suami saya tak menjabat lagi Gubernur DKI pada Tahun 1965 karena diberhentikan tanpa alasan oleh pemerintah karena ada indikasi tuduhan bahwa Henk Ngantung terlibat PKI dan terlibat sebagai anggota seniman Lekra padahal tidak pernah berurusan dengan Lekra.” Tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah tak menjabat Gubernur DKI, Henk Ngantung tak mendapatkan kebijaksanaan apapun dari pemerintah. Kehidupan keluarganya ditopang dari hasil melukis kembali, sampai dokumentasi hasil karya lukisan Henk Ngantung tak ada yang tersisa dirumahnya, habis dijual karena tak ada penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya, sampai ketika Ibu Evi ditawari pekerjaan oleh sebuah perusahaan kosmetik besar diIndonesia dengan gaji besar, Ibu Evi tak menerimanya begitu saja, ia meminta ijin suaminya dan Henk Ngantung tak mengijinkan dengan alasan istrinya sudah cantik jika maju dan kaya takut lupa dengan suami dan anak-anaknya, Ibu Evi pun menurut dan akhirnya mereka hidup bergantung pada hasil penjualan lukisan tapi tetap bahagia karena keluarganya solid dan harmonis walau penuh keterbatasan ekonomi.
Henk Ngantung diberhentikan sebagai Gubernur DKI pada Tahun 1965 namun baru mendapatkan pensiun pada Tahun 1982, Setelah Henk Ngantung meninggal di tahun 1991, Ibu Evi hanya menerima pensiun setengahnya dari jumlah nominal pensiun ketika suaminya masih ada.
Satu potret kehidupan seorang yang telah berjasa untuk bangsanya namun tak dihargai kehidupannya, hak yang terlupakan dan sebuah perlakuan yang kurang pantas untuk seorang seniman yang telah berkontribusi membuat karya besar bagi sebuah icon Kota Jakarta Ibu Kota Negara, apalagi Henk Ngantung adalah seorang mantan Wakil Gubernur dan Gubernur DKI periode 1960-1965 tetapi masa hidupnya setelah tak menjabat Gubernur DKI morat-marit dan hanya mengandalkan dari hasil melukis untuk keluarganya.
Sudah sepatutnya semua orang tahu dan berterimakasih juga bangga terhadap karya besar yang telah ditorehnya dibalik terciptanya Patung Selamat Datang tersebut, hak cipta dan sumbangsih karyanya patut di apresiasi secara mendalam dari pihak pemerintah agar kesejahteraan keluarganya terjamin dan tidak telantar.
Dari cerita Ibu Evi yang merupakan istri dari seorang seniman pelukis serta mantan Gubernur DKI, tersirat satu cermin bahwa missi suaminya memimpin Jakarta tak hanya fokus pada sistem yang baku untuk membangun Jakarta namun menonjolkan pula sebuah estetika penataan kota yang berwawasan seni serta berbudaya. Sehingga berpengaruh terhadap kenyamanan dan keindahan kota yang membuat warganya ikut terinspirasi untuk berkarya juga.
Dari kisah yang dipaparkan oleh Ibu Evi pun, terbersit sebuah inspirasi tentang prinsip hidup serta harga diri, saat beliau dan keluarganya kekurangan dan ketika tawaran kerja menggiurkan datang, tak serta merta menerimanya apalagi meminta-minta, Ibu Evi lebih menurut kepada suaminya dan bersama keluarganya bahu membahu untuk tetap berjuang menjalani hidup. Dari hasil karya cipta Henk Ngantung sebagai pembuat sketsa Monumen Selamat Datang pun Ibu Evi beserta keluarga tak mengharapkan balas jasa, yang ia harapkan hanyalah pengakuan dan ingin hasil karyanya bermanfaat untuk banyak orang.
Sebuah prinsip hidup yang jarang ditemui pada Jaman serba individualistis dan materialistis ini, bagai setetes embun di Sahara dari petikan obrolan bersama Ibu Evi Henk Ngantung. | Ani Berta