Galang Asa dan Empati untuk Anak Penderita Kanker

Sebuah aksi sosial yang unik untuk pertama kalinya diadakan di Indonesia. Shave for Hope, demikian nama acara tersebut, terselenggara di sebuah mal di kawasan Jakarta Selatan, Minggu kemarin.

Shave for Hope adalah sebuah aksi sosial yang memiliki misi menggalang dana sekaligus mewujudkan dukungan psikososial bagi anak-anak penderita kanker di Indonesia agar mereka mendapat biaya perawatan kesehatan yang memadai. Acara ini pun memiliki tujuan menggugah serta meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia secara luas terhadap penyakit kanker yang diderita anak-anak di keluarga Indonesia.

Sama halnya dengan aksi sosial Shave for Hope yang terselenggara di luar negeri, Shave for Hope di Indonesia yang terselenggara pada 27 Mei 2012 lalu ini pun berwujud aksi potong rambut para shavees (sebutan bagi partisipan). Para pria dicukur habis, sedang perempuan dipotong minimal 10 cm di atas bahu.

Tak hanya partisipan yang dicukur rambutnya, masyarakat yang menyaksikan aksi itu dan ikut tergugah akan misi sosial itu pun bisa menjadi relawan. Nilai aksi mencukur dan memotong rambut itu sebanding dengan seratus ribu rupiah. Uang itu kemudian didonasikan kepada anak-anak pengidap kanker.

"Ini adalah gerakan masyarakat bersama untuk membantu meringankan beban ekonomi adik-adik kanker dan keluarganya," papar Steny Agustaf, penanggung jawab Shave for Hope, dalam siaran pers acara itu. "Yang terpenting dalam acara ini adalah keikutsertaan masyarakat untuk coba datang dan melakukan aksi sosial," tambah Steny saat ditemui Koran Jakarta.

Shave for Hope diselenggarakan oleh Evio Productions bekerja sama dengan penggagasnya, yakni Asian Medical Student Association (AMSA) serta didukung Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia–Community of Children with Cancer (YPKAI–C3).

Aksi Kecil Berdampak Besar
"Berani cukur rambut buat kanker anak?" Demikian tagline Shave for Hope kali ini. Tagline itu seakan-akan mengajak masyarakat melakukan sebuah bantuan yang bersifat amat sederhana. "Ini merupakan small action, huge impact for others. Maksudnya, dengan aksi kecil yang kita lakukan bersama, dapat menghasilkan manfaat yang besar buat orang lain," papar Steny lebih lanjut.

"Acara ini memang untuk penggalangan dana, dan dana tersebut akan kami berikan untuk Yayasan Kanker Anak," tambahnya. Karena rasa kepedulian dan empati yang begitu besar pada anak-anak pengidap kanker itulah, Evio Productions, AMSA, dan YPKAI–C3 bertekad membuat Shave for Hope yang pertama kali terselenggara di Indonesia.

"Mengapa kita melakukan aksi sosial seperti memotong atau mencukur rambut hingga botak? Ya karena ini bertujuan memberikan semangat kepada pengidap kanker yang mengalami kerontokan dan kehilangan rambut akibat kemoterapi," ucap Casey Claire Tjahaja dari AMSA.

"Kita mau tunjukin ke mereka (pengidap kanker) bahwa botak itu bukanlah hal yang dapat menghambat mereka untuk berani tampil layaknya orang normal. Dengan botak pun kita bisa melakukan banyak hal. (Aksi ini) juga ingin sedikit membantu secara psikologis kepada mereka untuk tetap semangat menjalani hidup," tegas Casey yang juga merupakan Ambassador Public Healthy AMSA Indonesia.

Target awal dari pihak penyelenggara Shave for Hope ialah sekitar 1.000 shavees bakal dicukur rambutnya. Namun, ternyata para shavees yang tertarik berpartisipasi, berdasarkan pendaftaran pada Shaveforhope.com, mencapai 1.400 orang, melebihi target awal.

"Acara ini bagus banget," ujar Dwi Chinta Seftiana, 20 tahun. "Aku bisa ikut partisipasi dengan cara memotong rambutku. (Acara) ini benar-benar bantu kita banget yang ingin menyumbang. Buat mahasiswa kayak saya kan belum bisa membantu dengan nilai uang yang besar," ucap Dwi, yang merupakan mahasiswi UNJ, saat mendapatkan piagam dari Shave for Hope.

Dalam tugas pencukuran rambut shavees, pihak Johnny Andrean Salon ikut berpartisipasi dan mendukung sebagai wujud program Corporate Social Responsibility (CSR) mereka.

Shave for Hope dimulai dengan mencukur rambut lima shavees yang salah satunya adalah pendiri Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia, dr Edy Setiawan Tehuteru SpA. "Acara hari ini sangat positif. Ada dua misi yang hendak disampaikan acara ini. Pertama, ingin menyebarluaskan informasi tentang kanker anak, dan yang kedua, ingin membantu mengurangi beban keluarga yang tidak mampu untuk mengobati anaknya yang terkena kanker," papar dr Edy kepada Koran Jakarta.

Ternyata, di antara para shavees ada juga yang mantan pengidap kanker. Salah satunya Lidya Dumayanti, yang mengidap leukemia granulositik. "Sebagai cancer survivor, saya bisa merasakan yang adik-adik ini rasakan, seperti menerima kenyataan sebagai pengidap kanker, itu bisa mengganggu psikologis kita, ditambah fisik yang lemah dan harus menghadapi kehilangan rambut," ungkap dia.

"Saya ingin sekali berbagi rasa dengan mereka (lewat event ini). Kita tidak perlu berkecil hati dan sedih jika kehilangan rambut. Saya pengidap kanker pun berani mencukur habis rambut saya demi memotivasi mereka bahwa kehilangan rambut bukanlah hal yang dapat menghambat aktivitas kita," ucap Lidya lebih lanjut saat diwawancara Koran Jakarta.

Tak hanya Lidya, ada pula salah satu shavees yang berasal dari Bandung bernama Andrian Nurmansyah yang juga pengidap kanker. Ia bahkan berharap Shave for Hope bisa dilaksanakan di kotanya mengingat banyak pengidap penyakit kanker seperti dirinya yang sangat butuh bantuan psikologis maupun hal pengobatan.

Berdasar data terakhir (28/5) dari akun Shave for Hope pada jejaring sosial Twitter, aksi mereka secara total berhasil mencukur rambut 1.064 shavees dengan total donasi 835.319.179 rupiah plus 300 dollar AS. Jumlah yang lumayan besar terkumpul hanya dari satu acara ini.

Pihak penyelenggara maupun para relawan amat kagum akan perolehan donasi ini, serta berharap acara sosial ini akan terus berjalan.

Catatkan Rekor
Shave for Hope merupakan acara sosial penggalangan uang untuk amal melalui cukur rambut yang terinspirasi dari ajang serupa yang sukses di negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Singapura.

Banyak cara untuk menarik minat relawan, partisipan, serta donatur untuk acara ini. Selain memberikan hiburan berupa pementasan musik, salah satu upaya yang menarik dan dilaksanakan di Indonesia ialah menggandeng ajang ini dengan upaya pencatatan rekor.

Dalam Shave for Hope ini, Museum Rekor Indonesia (MURI) berhasil mencatatkan rekor untuk donasi rambut termahal bagi shavees Bapak Agus Gunawan dari Young Presidents Organization. Donasi beliau tercatat 427 juta rupiah dan 300 ribu dollar AS. Beliau merelakan kepalanya menjadi botak walau dalam keseharian ia amat peduli pada tatanan rambutnya.

Antusiasme berdonasi dalam aksi sosial Shave for Hope ditunjukkan dua individu luar biasa ini, yakni seorang bocah berumur 7 tahun bernama Keo Akili dan Cecilia Putty Vickend, seorang wirausaha muda.

Keo (demikian sapaan akrabnya) mengaku sangat tertarik untuk berpartisipasi dalam Shave for Hope setelah melihat informasi tentang acara tersebut. Hatinya tergugah dan ingin sekali dapat membantu anak-anak pengidap kanker. "Aku langsung memberitahukan Shave for Hope kepada kedua orang tuaku serta teman-temanku, dan berhasil mengajak mereka untuk turut serta menjadi donatur," kata Keo dengan nada polos.

Saking semangatnya, Keo bahkan membujuk babysitter-nya untuk berpartisipasi. Ternyata, upayanya tak sia-sia. Keo mampu mengumpulkan donasi uang 200 juta rupiah!

Lain halnya dengan Cecilia. Cecilia bertekad mendukung adik-adik pengidap kanker dengan cara yang unik. Ia bersama dengan teman-temannya membuat program menjual sepatu bermerek Junkiee. Satu pasang sepatu yang berhasil terjual akan mendapat uang empat ribu rupiah. Dari usahanya itu, Cecilia bersama teman-temannya berhasil mengumpulkan donasi empat juta rupiah.

"Memang sangatlah berat menjadi seorang penderita kanker. Tidak mudah menerima ketika kita tahu bahwa kita divonis kanker. Perasaan sedih dan putus asa menghampiri. Karena saya tahu mereka juga mengalami hal dan perasaan yang sama seperti saya, makanya saya bertekad untuk ikut serta mendukung acara Shave for Hope ini, dan tetap jadi orang yang tegar," ujar Cecilia sambil menangis terharu. | Koran Jakarta
Lebih baru Lebih lama