Belajar dari Anak Kecil

Oleh : SAURMA. Pada banyak hal, anak kecil belajar dari orang dewasa. Tetapi ternyata ada hal-hal yang sebaliknya, dimana kita orang dewasa belajar dari anak kecil. Bagaimana bisa?
Sebuah kisah berikut ini adalah kisah sebenarnya. Seorang anak bernama Angga, mengikuti Jambore Anak pada rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara tahun lalu di bumi perkemahan Sibolangit. Di sana, ia bertemu teman-teman baru yang berasal dari berbagai sekolah dan camping bersama beberapa orang diantaranya di salah satu pondokan yang tersedia.

Selama dua hari kebersamaan dengan teman-teman barunya, ternyata menimbulkan keakraban bagi mereka. Tetapi, di hari ketiga, yang merupakan hari terakhir kegiatan tersebut, seorang teman Angga, sebut saja bernama Ola, mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Tanpa sengaja ia buang air besar di celana dan ia sudah tidak memiliki celana bersih lagi untuk dipakai. Ia dimarahi oleh abangnya dan tampak sangat ketakutan.

Hal ini rupanya menjadi perhatian bagi Angga, yang tidak tega melihat teman barunya itu dimarahi oleh abangnya. Dengan penuh keikhlasan, ia mengambil satu-satunya celana cadangan yang ada di ranselnya dan memberikannya pada Ola. Hal itu membuat Ola merasa sangat girang dan berterima kasih serta berjanji akan mengembalikannya pada HAN tahun depan. Ola langsung mengenakan celana itu dan siap untuk pulang ke rumahnya dengan hati tenang.

KENA MARAH

Angga merasa gembira dan senang karena dapat membantu temannya yang lagi apes itu. Tetapi betapa miris, karena dua jam berikutnya justru Angga yang mendapat giliran dimarahi Ibunya, karena mendengar Angga meninggalkan satu celananya di tempat mereka camping. Ibunya berpikir Angga adalah anak yang tidak dapat menjaga barang-barangnya dengan baik. Ia menyebutnya sebagai anak yang tidak mampu mandiri karena selama ini selalu dimanjakan oleh neneknya. Angga diam saja dan menerima kemarahan sang Ibu dengan tenang. Ia tidak mengatakan apapun.

Tidak terasa, satu tahun waktu berlalu dan saatnya akan dilaksanakan Jambore Anak lagi. Betapa terkejut Ibunya mendengar Pelaksana Jambore Anak yang kebetulan juga panitia tahun lalu menanyakan padanya apa barang anaknya Angga, yang tertinggal saat di Sibolangit dulu. Kebetulan orang tersebut mendengarnya marah pada Angga saat pulang dari Sibolangit.

Ia sendiri sudah lupa, karena satu tahun sudah berlalu. Saat diingatkan tentang celana, barulah Ibu Angga ingat.

Tapi kenapa ia harus ditelepon panitia itu? Ternyata Ola menanyakan pada panitia apakah Angga akan ikut lagi pada Jambore Anak tahun ini? Karena, ia berencana akan mengembalikan celana Angga yang dipinjamnya setahun lalu.

BELAJAR
Hal inilah salah satu yang dapat kita pelajari dari anak kecil. Soal solidaritas, yang ditampilkan Angga, dengan memberikan celananya pada Ola, meski ia takut mengakui pada Ibunya penyebab ia kehilangan satu celananya.

Hal lain adalah soal menepati janji, sebagaimana yang dikatakan Ola, bahwa ia akan mengembalikan celana tersebut pada Angga saat Jambore Anak tahun berikutnya. Dan ia benar-benar ingin menepati janjinya dan selama ini ia menyimpan celana Angga dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat diserahkannya lagi.

Hal-hal demikian, bagi anak-anak merupakan sebuah sikap yang tulus dan murni dan dilaksanakan dengan penuh sukacita. Bahkan rela menanggung akibatnya, sebagaimana Angga akhirnya dimarahi Ibunya dan dianggap belum mampu bertanggung jawab dan mandiri. Padahal, di balik itu, ia melakukan suatu kebaikan.

Lantas, bagaimana dengan kita orang dewasa? Jangankan berjanji untuk satu tahun, berjanji satu minggu atau satu bulan saja kita sering mengatakan lupa dan bahkan tidak dapat mempertanggungjawabkan sesuatu yang kita pinjam.

Hal-hal ini menjadi pelajaran moral yang dapat kita tiru. Bahwa tidak hanya ketika kecil saja, tetapi setelah dewasa juga kita dapat melakukan sikap solidaritas dan menepati janji. Caranya gampang sekali, yakni dengan membuka hati kita pada sesama yang membutuhkan dan menunjukkan diri kita sebagai orang yang dapat dipercaya dengan memenuhi janji yang sudah kita ucapkan.

Akhirnya Ibu Angga menyampaikan hal itu pada Angga dan Angga lantas meminta maaf pada Ibunya karena tidak mengatakannya dengan terus terang karena kuatir Ibunya marah. Ia mendapat pelajaran pada saat itu, bahwa ketidakterusterangannyalah yang justru membuatnya kena marah. Karena ternyata Ibunya memuji sikap Angga yang mau menolong temannya.

Demikianlah, tidak hanya anak kecil yang harus belajar pada kita, tapi kita juga dapat belajar dari anak kecil! Sebuah catatan. | Harian Analisa
Lebih baru Lebih lama