Pelajaran membaca dan menulis diberikan selama dua jam setiap harinya. Salah seorang guru dari International Organization for Migration (IOM), Lili Tobing, mengatakan sebagian besar pengungsi Rohingya mulanya tidak dapat membaca dan menulis, meskipun usianya sudah terbilang dewasa.
Sehingga, para guru mengajarkan baca tulis layaknya mengajar murid sekolah dasar. Ditambah lagi, faktor bahasa menambah kesulitan para guru ketika pertama kali mulai mengajar para Rohingya.
"Jadi saat pertama mengajar dulu sedikit kesulitan. Kita harus mengajarkan mereka baca dan menulis. Tetapi, mereka ini cepat berkembang. Sekarang semuanya sudah bisa baca tulis," kata Lili yang juga mahasiswa S-2 di Universitas Negeri Medan.
Selama dua tahun mendapat pendidikan di Medan, para pengungsi Rohingya kini fokus untuk belajar berbahasa Inggris. Para pengungsi ini sangat bersemangat belajar Bahasa Inggris karena berniat untuk hijrah mencari suaka ke Australia. "Sadar membutuhkan bahasa Inggris sebagai bekalnya, mereka pun sudah mulai bisa sedikit berbicara dengan bahasa Inggris," terang Lili.
Di negara asalnya, suku Rohinhya hanya bersekolah sampai tingkat menengah atas. Itu pun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. "Pemerintah seperti sengaja melarang pendidikan untuk kami, bersekolah hanya mencuri-curi saja. Karena saya tidak bisa melanjutkan kuliah karena memang tidak bisa, bukan karena tidak ada biaya," salah satu pengungsi, Muhamad Noor.
"Beruntung di Indonesia, khususnya Medan, kami mendapatkan bekal pendidikan seperti bahasa Ingggris. Ini sangat penting untuk ke depannya. Medan kota yang damai meskipun banyak suku tinggal di sini," sambungnya.
Solidaritas
Sementara itu, solidaritas mendukung Suku Rohingya terus mengalir dari sejumlah elemen masyarakat di Indonesia. Pada Jumat 3 Agustur 2012, ratusan orang yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) berunjuk rasa di Bundaran Tugu Degulis Untan Pontianak, Kalimantan Barat. Mereka meminta pemerintah Indonesia turut aktif menyelesaikan permasalahan Suku Rohingya.
"Kami mengutuk keras atas insiden itu. Kami meminta pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas, jangan diam saja itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," kata anggota FPI, Ahmad Syahriel.
Menurut dia, tentara dan pemerintah Myanmar membantai Muslim Rohingya karena menolak mengubah keyakinan. "Mereka disiksa. Ribuan jiwa tak bersalah telah gugur," katanya. | Sumber
"Jadi saat pertama mengajar dulu sedikit kesulitan. Kita harus mengajarkan mereka baca dan menulis. Tetapi, mereka ini cepat berkembang. Sekarang semuanya sudah bisa baca tulis," kata Lili yang juga mahasiswa S-2 di Universitas Negeri Medan.
Selama dua tahun mendapat pendidikan di Medan, para pengungsi Rohingya kini fokus untuk belajar berbahasa Inggris. Para pengungsi ini sangat bersemangat belajar Bahasa Inggris karena berniat untuk hijrah mencari suaka ke Australia. "Sadar membutuhkan bahasa Inggris sebagai bekalnya, mereka pun sudah mulai bisa sedikit berbicara dengan bahasa Inggris," terang Lili.
Di negara asalnya, suku Rohinhya hanya bersekolah sampai tingkat menengah atas. Itu pun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. "Pemerintah seperti sengaja melarang pendidikan untuk kami, bersekolah hanya mencuri-curi saja. Karena saya tidak bisa melanjutkan kuliah karena memang tidak bisa, bukan karena tidak ada biaya," salah satu pengungsi, Muhamad Noor.
"Beruntung di Indonesia, khususnya Medan, kami mendapatkan bekal pendidikan seperti bahasa Ingggris. Ini sangat penting untuk ke depannya. Medan kota yang damai meskipun banyak suku tinggal di sini," sambungnya.
Solidaritas
Sementara itu, solidaritas mendukung Suku Rohingya terus mengalir dari sejumlah elemen masyarakat di Indonesia. Pada Jumat 3 Agustur 2012, ratusan orang yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) berunjuk rasa di Bundaran Tugu Degulis Untan Pontianak, Kalimantan Barat. Mereka meminta pemerintah Indonesia turut aktif menyelesaikan permasalahan Suku Rohingya.
"Kami mengutuk keras atas insiden itu. Kami meminta pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas, jangan diam saja itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," kata anggota FPI, Ahmad Syahriel.
Menurut dia, tentara dan pemerintah Myanmar membantai Muslim Rohingya karena menolak mengubah keyakinan. "Mereka disiksa. Ribuan jiwa tak bersalah telah gugur," katanya. | Sumber