Jakarta - Salah satu faktor pasangan sulit
memiliki anak adalah kondisi dan kesuburan sperma milik suami.
Konsentrasi, kecepatan bergerak dan bentuk sperma adalah penanda
kualitas sperma tersebut.
"Pria subur rata-rata mengeluarkan dua hingga lima cc semen dalam satu kali ejakulasi. Dikatakan normal bila dia memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta per cc," ujar dokter Alvin Setiawan, SpOG dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi kepada INILAHCOM, di Jakarta, baru-baru ini.
Dia menjelaskan tingkat konsentrasi sperma terbagi menjadi beberapa. Pria yang subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 hingga 40 juta per cc semen, konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia yaitu dibawah 20 juta hingga 5 juta per cc, sangat rendah atau kriptozoospermia yaitu jika hanya terdapat 1 juta ke bawah sperma dalam semen dan azoospermia yaitu tidak ditemukannya sama sekali atau nol jumlah sperma.
Kriteria kedua adalah kecepatan sperma bergerak. Kecepatan bergerak terbagi menjadi empat yaitu A untuk bergerak cepat, B untuk bergerak lambat, C untuk kondisi bergerak di tempat dan D sama sekali tidak bergerak, diam atau mati.
"Sperma dikatakan normal dan bisa membuahi sel telur bila hasil A ditambah B melebihi 50 persen," ujar Alvin.
Ketiga adalah terkait bentuknya. Sperma bisa membuahi sel telur jika memiliki bentuk normal. Tidak bercabang kepalanya dan memiliki ekor yang lurus adalah ciri fisik sperma normal.
"Pria normal memproduksi paling tidak 30 persen sperma berbentuk normal untuk dapat membuahi sel telur," demikian Alvin.
Lalu apa saja yang bisa membuat sperma pria tidak normal sehingga tidak memiliki kualitas yang baik untuk membuahi sel telur?
"Misalnya ada kelainan hormon, varikokel atau pembesaran abnormal pembuluh darah vena di kantung testis, stress, gaya hidup merokok, alkohol, begadang juga ikut mempengaruhi kualitas sperma," jelas dokter Alvin.
"Pria subur rata-rata mengeluarkan dua hingga lima cc semen dalam satu kali ejakulasi. Dikatakan normal bila dia memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta per cc," ujar dokter Alvin Setiawan, SpOG dari MRCCC Siloam Hospitals Semanggi kepada INILAHCOM, di Jakarta, baru-baru ini.
Dia menjelaskan tingkat konsentrasi sperma terbagi menjadi beberapa. Pria yang subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 hingga 40 juta per cc semen, konsentrasi sperma rendah adalah oligospermia yaitu dibawah 20 juta hingga 5 juta per cc, sangat rendah atau kriptozoospermia yaitu jika hanya terdapat 1 juta ke bawah sperma dalam semen dan azoospermia yaitu tidak ditemukannya sama sekali atau nol jumlah sperma.
Kriteria kedua adalah kecepatan sperma bergerak. Kecepatan bergerak terbagi menjadi empat yaitu A untuk bergerak cepat, B untuk bergerak lambat, C untuk kondisi bergerak di tempat dan D sama sekali tidak bergerak, diam atau mati.
"Sperma dikatakan normal dan bisa membuahi sel telur bila hasil A ditambah B melebihi 50 persen," ujar Alvin.
Ketiga adalah terkait bentuknya. Sperma bisa membuahi sel telur jika memiliki bentuk normal. Tidak bercabang kepalanya dan memiliki ekor yang lurus adalah ciri fisik sperma normal.
"Pria normal memproduksi paling tidak 30 persen sperma berbentuk normal untuk dapat membuahi sel telur," demikian Alvin.
Lalu apa saja yang bisa membuat sperma pria tidak normal sehingga tidak memiliki kualitas yang baik untuk membuahi sel telur?
"Misalnya ada kelainan hormon, varikokel atau pembesaran abnormal pembuluh darah vena di kantung testis, stress, gaya hidup merokok, alkohol, begadang juga ikut mempengaruhi kualitas sperma," jelas dokter Alvin.
