Setelah melontarkan pernyataan Indonesia
negeri Saba yang sempat menggemparkan kalangan akdemisi dan agamawan.
Kini melalui kajian yang lebih dalam, KH. Fahmy Basya menyebutkan
Borobudur adalah Zabur yang hilang.
Alasannya hingga dekade ini tidak ada yang mengetahui pasti
keberadaan kitab Zabur milik Nabi Daud. Zabur diceritakan akurat dalam
Al-Quran dan kitab Zulkarnain. Zabur sendiri diartikan lempengan dengan
besi.
Menurut KH. Fahmy Basya, kita perlu memahami perbedaan antara Bayyinan, Zabur dan kitab.
“Kalau kitab bentuknya tulisan. Kalau Zabur berbentuk lempengan bergambar. Sedangkan bukti (bayyinan) berupa mukjizat. Dari tiga pengertian itu, berarti lempengan berupa gambar saja. Nah lempengan ini pasti dari emas. Inilah yang Allah berikan kepada Nabi Daud”, terang Fahmy.
Zabur Nabi Daud diteruskan ke anaknya, Nabi Sulaiman diabadikan dalam ayat, “Kami fahamkan Sulaiman akan dia (Daud)”. Kata faham di sini berarti Sulaiman memahami dan mewarisi Daud. Fahmy juga mencontohkan pada kisah nabi Musa yang tidak memahami Nabi Harun sehingga keduanya bertengkar.
Penjelasan lanjut dari ‘fahamkan’ maksudnya meneruskan lempengan Zabur ini. Nabi Sulaiman mengkopi lempengan Zabur tersebut pada batu bagian Arupadhatu Candi Borobudur.
Al- Qur’an memandang Zabur sebagai bentuk penggambaran aktivitas yang dilakukan manusia. Seperti adanya kisah Nabi Yunus yang diceritakan melaui relief Candi Borobudur. Padahal masa Nabi Yunus belum datang, tapi Zabur telah mengabarkan. Demikian KH Fahmi Basya menjelaskan. | KoranOpini
Menurut KH. Fahmy Basya, kita perlu memahami perbedaan antara Bayyinan, Zabur dan kitab.
“Kalau kitab bentuknya tulisan. Kalau Zabur berbentuk lempengan bergambar. Sedangkan bukti (bayyinan) berupa mukjizat. Dari tiga pengertian itu, berarti lempengan berupa gambar saja. Nah lempengan ini pasti dari emas. Inilah yang Allah berikan kepada Nabi Daud”, terang Fahmy.
Zabur Nabi Daud diteruskan ke anaknya, Nabi Sulaiman diabadikan dalam ayat, “Kami fahamkan Sulaiman akan dia (Daud)”. Kata faham di sini berarti Sulaiman memahami dan mewarisi Daud. Fahmy juga mencontohkan pada kisah nabi Musa yang tidak memahami Nabi Harun sehingga keduanya bertengkar.
Penjelasan lanjut dari ‘fahamkan’ maksudnya meneruskan lempengan Zabur ini. Nabi Sulaiman mengkopi lempengan Zabur tersebut pada batu bagian Arupadhatu Candi Borobudur.
Al- Qur’an memandang Zabur sebagai bentuk penggambaran aktivitas yang dilakukan manusia. Seperti adanya kisah Nabi Yunus yang diceritakan melaui relief Candi Borobudur. Padahal masa Nabi Yunus belum datang, tapi Zabur telah mengabarkan. Demikian KH Fahmi Basya menjelaskan. | KoranOpini
