Sebuah makam keramat yang terletak di sebelah timur
Kota Yogyakarta, tepatnya di wilayah Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah,
Sleman.
Saking tuanya makam ini, bahkan sebelum Yogyakarta terbentuk, makam ini telah lama berdiam di kawasan pedesaan itu.
Kuburan ini cukup dikenal oleh warga, apalagi mereka yang berasal
dari Jawa, lantaran di sinilah tempat dimakamkannya jasad Roro Mendut
dan Pronocitro, sebuah legenda kisah nyata cerita cinta sejati yang
pernah hidup di tanah Jawa layaknya legenda bangsa Eropa tentang Romeo
dan Juliet.
“Makam tersebut memang benar makam Roro Mendut, cerita hidup yang
dahulu memang pernah ada di tanah Jawa ini,” terang Rubiyo (61) sesepuh
warga kampung Gandu.
Cerita cinta dua anak manusia tersebut terjadi sekitar abad ke-17
atau kurang lebih pada tahun 1600-an, ketika jaman Kesultanan Mataram
atau embrio dari Keraton Yogyakarta masih berkuasa dibawah pimpinan
Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja pertamanya. Pada masa itu, Kraton
Mataram merupakan kerajaan yang menguasai hampir seluruh wilayah tanah
Jawa.
Daerah-daerah di pesisir utara Jawa pun dirambah, salah satu wilayah
yang ingin dikuasai oleh Mataram saat itu yakni Kadipaten Pesantenan
yang kini bernama Kabupaten Pati, masuk ke dalam wilayah Propinsi Jawa
Tengah. Dalam tugas tersebut, Sultan Agung mengutus salah satu panglima
tangguh Kerajaan Mataram berpangkat Tumenggung yang bernama Wiroguno
untuk berangkat berperang menguasai Kadipaten Pati.
Kadipaten Pesantenan alias Kadipaten Pati ini bukanlah wilayah yang
memiliki kekuatan perang yang tangguh, tak butuh waktu lama bagi
Tumenggung Wiroguno untuk menguasainya. Tidak sampai hitungan minggu,
wilayah kecil ini berhasil dikuasai Wiroguno dan pasukannya.
Sebagai tanda takluknya kadipaten tersebut terhadap Keraton Mataram,
Adipati Pati menyerahkan upeti harta benda kepada keraton Mataram,
berikut juga menyerahkan puteri angkatnya yang cantik jelita bernama
Roro Mendut.
Roro Mendut merupakan seorang gadis kelahiran Desa Trembagi, Pati
yang sudah sejak kecil diasuh oleh adipati di lingkungan kerajaan.
Diboyonglah Roro Mendut ke Mataram dan harta benda jarahan yang
lainnya. Di Mataram, Roro Mendut tinggal di lingkungan keraton.
Rencananya, gadis cantik ini akan dipersunting sendiri oleh Wiroguno
jika usia Roro Mendut telah matang nantinya.
Namun hasrat Sang Tumenggung bertepuk sebelah tangan, Roro Mendut
enggan dipersunting oleh Wiroguno, lantaran ia sebenarnya telah memiliki
kekasih bernama Pronocitro, pemuda tampan dari daerah asalnya sana.
Diam-diam Pronocitro pun menyusul Roro Mendut, berangkatlah pemuda
ini dari Pati ke bumi Mataram. Di Mataram, Pronocitro menyamar menjadi
seorang pekatik atau yang dalam bahasa Jawa berarti pekerja perawat
kuda-kuda prajurit.
Mendengar kalau Pronocitro mengikutinya ke Mataram akhirnya Roro
Mendut meminta kepada Wriguno untuk diperbolehkan hidup di luar
lingkungan keraton yang selama itu membelenggunya.
Dipilihlah daerah Sendangtirto, yang berjarak sekitar 25 km sebelah
timur Kraton Mataram, agar dirinya tetap bisa selalu bertemu dengan
kekasihnya tanpa diketahui pihak istana.
Selama di pengasingannya, Roro Mendut tidak pernah di rawat oleh
Wiroguno. Untuk menyambung hidupnya, gadis cantik ini terus bertahan
dengan cara berjualan rokok lintingan, yaitu rokok yang dibuat secara
tradisional dari gulungan kertas diisi dengan tembakau.
Rokok yang dipasarkan Roro Mendut sangat laris manis di kalangan
prajurit Mataram, lantaran kertas rokok-rokok tersebut dalam proses
akhir penggulungannya, selalu direkatkan dengan cara dijilat terlebih
dahulu menggunakan lidah Roro Mendut yang sangat cantik dan menggoda
tersebut.
Tak hanya itu, kepada setiap pembelinya, Roro Mendut selalu yang
pertama kali menghidupkan rokok tersebut. Artinya, Roro Mendut lah yang
menyulutkan api sekaligus yang pertama menghisapkan rokok tersebut untuk
sang pembeli. Rokok bekas sedotan gadis muda ini konon akan lebih manis
dan nikmat rasanya ketika dihisap.
Cukup lama Roro Mendut menjalin hubungan cinta sembunyi-sembunyi
dengan Pronocitro melalui cara penyemaran seperti itu. Namun akhirnya,
perjalanan cinta kedua muda-mudi inipun terendus juga oleh Wiroguno.
Pada suatu hari, Tumenggung Wiroguno berhasil menangkap basah sejoli ini
sedang berduaan.
Wiroguno naik pitam melihat kejadian tersebut. Langsung dicabutlah
keris pusaka miliknya dan menghujamkannya ke tubuh Pronocitro.
Pasangan yang sedang bermadu kasih ini pun terkejut. Melihat
Pronocitro yang diserang, segeralah Roro Mendut membalikkan badannya
seolah menutupi dan menjadi perisai tubuh kekasihnya itu.
Keris Wiroguno akhirnya menusuk punggung Roro Mendut. Namun sayang,
keris itupun juga akhirnya tembus sampai menusuk ke dada Pronocitro,
tewaslah sepasang kekasih ini secara bersamaan. Roro Mendut tewas ketika
memeluk kekasihnya, Pronocitro.
“Roro Mendut dan Pronocitro dikuburkan dalam satu kuburan. Jadi, di
kuburan tersebut dimakamkan dua jasad sekaligus,” ungkap Rubiyo.
Sepasang kekasih ini pun dimakamkan di tempat dimana kejadian tragis
itu terjadi.
Keduanya pun dimakamkan dalam satu liang lahat, masih
dalam keadaan saling berpelukan erat.
Makam Roro Mendut dan Pronocitro ini ada juru kuncinya. Namun
sekarang sudah tidak ada lagi, karena juru kuncinya telah meninggal.
Jadi makam tersebut sudah tidak ada yang merawat dan menjaganya,” kata
ayah tiga orang anak ini.
Makam Roro Mendut dan Pronocitro ini kini terketak di sebuah kebun
warga yang tidak terawat. Dibuatlah sebuah rumah kecil, yang dalam
bahasa Jawa disebut cungkup. Di bangunan cungkup berukuran sekitar 4 x 5
meter tersebut di dalamnya berisi pusara Roro Mendut dan Pronocitro.
Nisan tempat dimakamkan jasad kedua insan ini tidak terbuat dari
batu seperti nisan pada umumnya, malainkan hanya sederhana saja terbuat
dari kayu setinggi kurang lebih setengah meter, di sekitar nisan
tersebut ditutupi oleh kain kafan berwarna putih. Diterangkan oleh
Rubiyo, makam Roro Mendut dan Pronocitro ini dulu banyak dikunjungi
warga yang ingin mengalab berkah di hadapan pusara keduanya.
Walau pada hari biasa kuburan tua ini sering dikunjungi orang, namun
pada hari tertentu yakni pada malam Jumat Kliwon atau pada malam Selasa
Kliwon makam ini lebih ramai dikunjungi orang. “Kedua hari inilah yang
banyak dipilih orang untuk melakukan ritual dan diyakini akan membuat
terkabul semua permintaan,” lanjutnya.
Dari sekian banyak permintaan, kebanyakan dari para pengalab berkah
yang datang ke makam ini adalah mereka yang berprofesi sebagai padagang
yang ingin bisnis serta dagangannya diberikan kelancaran.
Hal ini diyakini, karana semasa hidup, Roro Mendut adalah merupakan
seorang pedagang rokok yang sukses. Jadi, tuah makam Roro Mendut ini
dipercaya sangat membantu mendatangkan berkah pula bagi mereka yang
berprofesi sebagai pedagang.
“Banyak yang telah sukses dengan melakukan ritual di makam ini. Yang
datang tak hanya warga dari wilayah sini saja, bahkan orang-orang dari
daerah yang jauh pada datang ke makam Roro Mendut ini, ingin supaya
permohonannya terkabul,” terang kekek seorang cucu ini.
Ada serangkaian prosesi yang kudu dilakoni para peritual yang ingin
mengalab berkah di makam Roro Mendut dan Pronocitro ini agar permohonan
nantinya bisa terkabul. Agar proses ritual menjadi sempurna, siapapun
orangnya yang melakukan kegiatan spiritual di makam tersebut disarankan
untuk melakukan serangkaian ritual sebanyak 3 kali, bisa 3 hari
berturut-turut atau bisa pula dihari yang berbeda, yang penting jumlah
ritualnya genap sebanyak 3 kali.
Peritual harus membawa sesajen berupa kembang setaman dan dupa atau
pula kemenyan. Selain itu, peritual juga harus menyediakan pula bedak
dan rokok untuk sesajen, karena perlengkapan inilah yang dulu sering
dibawa Roro Mendut ketika berjualan rokok semasa hidupnya.
Setelah itu, barulah dupa dan kemenyan tersebut dibakar. Sambil
meletakan sesajen berikut bedak dan rokok tersebut di dekat pusara nisan
kayu itu, tak lupa kemudian peritual memanjatkan permohonan yang
diharapkannya.
Setelah doa dan permohonan dipanjatkan di hadapan pusara Roro Mendut
dan Pronocitro, para pengalab berkah ini harus melakukan prosesi ritual
mengelilingi kompleks luar makam. Perjalanan mengelilingi makam ini
cukup dilakukan sekali putaran saja. Gerak putaran mengelilingi makam
ini harus berlawanan arah dengan putaran jarum jam alias bergerak
mengitari dengan putaran ke kiri.
Ada hal mistis nan erotis yang harus dilakukan setiap peritual
sebagai tahap terakhir menyempurnakan serangkaian ritual permohonan di
makam ini. Setelah mengelilingi makam, para pengalab berkah diwajibkan
melakukan persetubuhan alias melakukan hubungan seksual antara pria dan
wanita.
“Memang, kegiatan berhubungan badan di makam tersebut telah
berlangsung sejak lama. Yang datang memohon ke makam tersebut pasti
datang secara berpasang-pasangan,” tambahnya.
Persetubuhan diakhir ritual ini dimaknakan sebagai simbol penyatuan
jiwa dan cinta antara dua insan manusia, seperti halnya cinta Roro
Mendut dan Pronocitro yang dibawa sampai mereka berdua mati. “Dalam
melakukan hubungan badan di makam Roro Mendut tersebut bisa dilakukan di
luar kompleks, atau di dalam cungkup itu. Yang penting harus melakukan
hubungan badan seperti suami istri,” beber Rubiyo.
Agar permohonannya menjadi makbul, persetubuhan yang dilakukan
tersebut haruslah hubungan seks antar muhrim. Artinya, hubungan seksual
tersebut haruslah hubungan badan antara suami atau istri yang sah, bukan
dengan yang lainnya.
Peritual yang permohonannya terkabulkan, setelah melakukan
serangkaian ritual di makam Roro Mendut dan Pronocitro dalam mimpinya
akan didatangi oleh sesosok perempuan cantik, dialah Roro Mendut.
Setelah itu bisa dirasakan akan terjadi kelancaran dan laris dalam usaha
dagang yang digelutinya. ITODAY
