Pergaulan bebas di kalangan remaja ditambah dengan minimnya pendidikan seks membuat kaula muda di tanah air kian terjerumus. Apalagi, pendidikan seks di tengah keluarga Indonesia masih dianggap sebagai hal yang tabu.
Buktinya 15 persen remaja di negara ini telah melakukan hubungan seks di luar ikatan pernikahan.
Petugas Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Medan, Sumut, dr Delyuzar Sp.PA (K) menyebutkan, selain sudah melakukan hubungan seks di luar nikah, 20 persen remaja juga terlibat kasus aborsi.
dr Delyuzar mengatakan, remaja perlu memahami ilmu pengetahun tentang kesehatan reproduksi. Dengan begitu, diharapkan akan dapat membentengi remaja dari dampak sex bebas.
“Dengan mengetahui dampak seks bebas itu, kita harapkan remaja bisa berkata tidak pada sex bebas,” kata Delyuzar yang dilansir Sumut Pos, Senin (19/12/2016).
Lebih jauh dikatakannya, penyampaian pengetahuan tentang seks harus diiringi kearifan guru dan orang tua. Dengan begitu tujuan membentengi bagi remaja dapat tercapai.
“Tunjukan rasa empati dengan dampak seks bebas, dengan berdialog dan siap menjadi teman curhat bagi remaja,” ujar Delyuzar.
Sebab selama ini pendidikan seks dinilai menyeramkan, tabu, tidak etis, jorok, haram, dosa dan jijik, sehingga tak disampaikan, walaupun dalam konteks pengetahuan.
Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu, penasaran, ingin merasakannya, hingga akhirnya menjajalnya.
Dengan begitu menimbulkan permasalahan, di antaranya ketiadaan dan kesalahan informasi, prilaku munafik dan juga kebodohan.
“Jumlah itu sangat mengejutkan dan menakutkan. Jika dibiarkan, berbahaya. Bahkan, dalam menangani masalah ini, harus melibatkan lintas sektoral,” ujar Delyuzar mengakhiri (ain/ila/iil/PS/JPG/nin)
Buktinya 15 persen remaja di negara ini telah melakukan hubungan seks di luar ikatan pernikahan.
Petugas Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Medan, Sumut, dr Delyuzar Sp.PA (K) menyebutkan, selain sudah melakukan hubungan seks di luar nikah, 20 persen remaja juga terlibat kasus aborsi.
dr Delyuzar mengatakan, remaja perlu memahami ilmu pengetahun tentang kesehatan reproduksi. Dengan begitu, diharapkan akan dapat membentengi remaja dari dampak sex bebas.
“Dengan mengetahui dampak seks bebas itu, kita harapkan remaja bisa berkata tidak pada sex bebas,” kata Delyuzar yang dilansir Sumut Pos, Senin (19/12/2016).
Lebih jauh dikatakannya, penyampaian pengetahuan tentang seks harus diiringi kearifan guru dan orang tua. Dengan begitu tujuan membentengi bagi remaja dapat tercapai.
“Tunjukan rasa empati dengan dampak seks bebas, dengan berdialog dan siap menjadi teman curhat bagi remaja,” ujar Delyuzar.
Sebab selama ini pendidikan seks dinilai menyeramkan, tabu, tidak etis, jorok, haram, dosa dan jijik, sehingga tak disampaikan, walaupun dalam konteks pengetahuan.
Hal ini menimbulkan rasa ingin tahu, penasaran, ingin merasakannya, hingga akhirnya menjajalnya.
Dengan begitu menimbulkan permasalahan, di antaranya ketiadaan dan kesalahan informasi, prilaku munafik dan juga kebodohan.
“Jumlah itu sangat mengejutkan dan menakutkan. Jika dibiarkan, berbahaya. Bahkan, dalam menangani masalah ini, harus melibatkan lintas sektoral,” ujar Delyuzar mengakhiri (ain/ila/iil/PS/JPG/nin)
