Bencana kekeringan terburuk di
Afrika Selatan telah menyebabkan masyarakat di delapan dari sembilan
provinsi di negara itu mengalami krisis air berkepanjangan. Serikat
Pertanian Agri Afrika Selatan telah meminta bantuan senilai 1 miliar
dolar dari subsidi pemerintah untuk membantu para petani. Namun, belum
ada sumber untuk mengatasi masalah tersebut.
Berawal dari kondisi tersebut, seorang remaja berusia 16 tahun, Kiara
Nirghin baru saja memenangkan Google Science Fair's Community Impact
Award for the Middle East and Africa atas karyanya yang berjudul 'No More Thirsty Crops'.
Kiara memanfaatkan kulit jeruk dan avokad untuk membuat polimer
penyerap super atau super absorbent polymer (SAP), yang mampu menyimpan
cadangan air. Dengan begitu, para petani bisa mempertahankan tanamannya,
bahkan dengan biaya minimal. Polimer ciptaan Kiara juga aman lantaran
menggunakan bahan limbah yang dapat didaur ulang.
"Kiara menemukan bahan ideal yang murah dan sederhana, yakni kulit
jeruk. Dan dari penelitiannya, dia menemukan cara untuk mengubahnya
menjadi tanah penyimpan air dengan bantuan avokad," ucap Ketua Program
Google Science Fair, Andrea Cohan, sebagaimana dikutip dari CNN, Rabu
(17/8/2016).
Kiara mengungkapkan bahwa ia ingin berusaha mengatasi salah satu
masalah yang menyebabkan krisis nasional tersebut. "Saya ingin
meminimalkan efek kekeringan di tengah masyarakat, terutama yang
berpengaruh pada tanaman," tuturnya.
Menemukan formula yang sempurna, kata Kiara, tidaklah mudah. Berbagai
rangkaian eksperimen pun telah dia coba sampai akhirnya berhasil.
"Saya mulai dengan meneliti apa itu SAP dan apakah mereka memiliki
persamaan dengan rantai polisakarida. Kemudian saya menemukan bahwa
kulit jeruk memiliki 64 persen polisakarida serta pektin pembentuk gel.
Sementara saya gunakan kulit avokad sebagai minyak," jelasnya.
Setelah menggabungkan dan membiarkan campuran tersebut di bawah sinar
matahari, kandungan di dalamnya kemudian bereaksi membentuk polimer
penyerap yang kuat.
"Jika gagasan itu dikomersialisasikan dan diterapkan untuk pertanian,
saya pikir dampak kekeringan pada tanaman akan berkurang," tambahnya. (rfa)
