Praja IPDN Asal Medan Tewas

Tiga Bulan Jelang Wisuda 

Agustus, tiga bulan ke depan, sejatinya menjadi hari bahagia bagi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Yudhi Wardhana Siregar (22).

Bagaimana tidak, Agustus mendatang dia dijadwalkan akan wisuda. Sayang, Jumat dini hari (25/5) dia tewas.

Kematian Wasana Praja (Praja tingkat akhir di IPDN) ini cukup mengejutkan. Pasalnya, meski pihak RS Al Islam Jalan Soekarno Hatta, Bandung Yudhi meninggal karena ada gangguan di selaput otaknya, pihak keluarga mengakun.

Yudhi tidak memiliki sejarah penyakit berat. “Sepengetahuan keluarga, almarhum tidak pernah menderita sakit keras, karena itu keluarga terkejut mendapat kabar almarhum meninggal karena sakit,” sebut Paman Yudhi, Ardon Suhartono, kemarin di rumah duka di kawasan Jl Pimpinan, Gang Tegas, No 10A, Kelurahan Sei Kera Hilir, Medan.

Menurut Ardon, almarhum Yudhi rencananya akan diwisuda pada Agustus mendatang. Dia terdaftar sebagai Praja IPDN tahun 2008 lalu. Praja Yudhi Wardhana Siregar kelahiran 22 April 1990, merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. “Dia itu sudah semester akhir, dan anaknya pintar. Rencananya dia wisuda Agustus nanti, tapi kok bisa gini dia meninggal,” ucap Iyet, tante Yudhi, dengan nada curiga atas kematian keponakannya yang terlalu cepat.

Tekad wisuda pada Agustus mendatang sempat dituliskan Yudhi dalam status Facebooknya dengan akun Yudhi Wardhana Siregar. Status yang dikirimkannya melalui layanan BlackBerry per 12 Februari berbunyi: toga buat orangtua 2012.

Tapi ajal memang berkata lain. Lelaki berparas cukup tampan ini menghembuskan napas terakhir pada pukul 1.40 WIB kemarin. Kepergian Yudhi yang begitu cepat tak pelak menuai banyak kecurigaan. Apalagi, tempat dia sekolah memiliki jejak rekam yang tak bagus.

Kematian Yudhi juga menjadi tanda tanya besar bagi rekan-rekannya di Medan. Pasalnya selama ini mereka tak pernah mendengar Yudhi sakit. “Aku tahu, tidak dia mempunyai (penyakit) seperti ini, yang dikatakan keluarganya sakit kepala yang membuat dia meninggal,” kata Agus Riadi sahabat Yudhi.

Agus mengatakan bahwa dirinya sudah berteman sewaktu kecil hingga dewasa, terakhir jumpa saat malam tahun baru. “Tidak pernah dia menceritakan tentang kampusnya, aku sangat terkejut saat kabar dia meninggal dengan secepat itu, akau tidak menyangka Yudhi yang sehat dan masih muda sangat cepat dipanggil Tuhan,” jelasnya.

Bahkan, dari Jakarta, Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Nurul Arifin pun meminta pihak yang berwenang untuk menyelidiki kasus meninggalnya Yudhi. “Ada baiknya kematian yang mendadak itu, diselidiki dengan teliti,” kata Nurul.

Menurut Nurul belum tentu berkaitan dengan faktor kekerasan. Namun merujuk jejak rekam kasus kekerasan di IPDN, maka kematian tersebut menurutnya layak diselidiki. “Saya sebagai masyarakat sipil juga sebagai anggota DPR Komisi II menghendaki segala bentuk kekerasan dan militeristik di IPDN dihentikan, terbukti kekerasan juga tidak diperlukan dalam karirnya ke depan,” kata Nurul.

Sayang, hingga tadi malam pihak IPDN tidak bisa dihubungi. Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi tidak bisa dihubungi. Sejak pagi hingga sore, nomor telepon selulernya tidak aktif. Wakil Rektor Sadu Wasistiono mengaku tidak mengetahui secara jelas kasus tersebut. “Dua hari ini saya di Jakarta sedang menyusun standar kompetensi camat. Jadi belum mengetahui secara jelas kasus yang Anda tanyakan,” tulisnya dalam pesan pendek.

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan IPDN Bernard Rondonuwu menolak memberikan keterangan. “Pernyataan resmi dari IPDN terkait kematian praja tersebut merupakan otoritas Rektor. Begitu prosedurnya. Maaf, saya tidak bisa memberikan keterangan,” ucapnya.

Terlepas dari itu, tadi malam kedatangan jenazah Yudhi disambut air mata keluarga. Yudhi tiba di rumah duka sekitar pukul 20.15 WIB. Peti berwarna krem yang berisi jasad Yudhi lalu dikeluarkan dari mobil ambulans, langsung disambut dengan tangisan sanak keluarga, family dan tetangga, tak habis-habis keluarga meneriakkan nama almarhum sambil meneteskan air mata.

Kedatangan jasad diiringi dengan tangisan sang ibu, Arbet. “Anakku…anakku…anakku,” jeritan sang ibu sambil dituntun oleh sejumlah kerabat keluarga masuk ke rumah duka.
Selanjutnya, jasad Wasana Praja ini dikebumikan di Tempat Pemakaman Muslim di Jalan Sado Medan, tadi malam.

Sebelumnya, pihak rumah sakit menjelaskan Yudi masuk ke rumah sakit sejak Rabu (23/5) sekitar pukul 21.40 WIB dalam kondisi kritis. Dan, langsung ditangani High Care Unit (HCU). “Dia mengalami demam selama tiga hari, disertai penurunan kesadaran. Dan, meninggal pada Jumat tadi (kemarin) sekitar pukul 1.40 WIB di HCU,” jelas dr Wendi Adam, selaku Divisi Pemasaran RS Al Islam, kemarin di Bandung.

Masih dikatakan Wendi, dengan sakit infeksi berat di daerah selaput otak. Kemungkinan infeksi di daerah selaput otak tersebut dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Lebih jauh dirinya menjelaskan, dari keterangan keluarga, Yudi sudah menderita sakit kepala sejak dua pekan lalu. “Sebelumnya sempat berobat ke beberapa tempat termasuk ditangani di klinik IPDN,” ucapnya.

Ketika ditanya apakah ada luka memar atau tanda kekerasan pada tubuh Yudi, dia menjawab, “Tidak (ada, Red). Yang jelas dia masuk ke sini dalam kondisi berat,” tegasnya.

Bantahan juga di sampaikan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai pengelola kampus IPDN. “Sesuai keterangan dokter yang menangani, yang bersangkutan meninggal karena mengalami gangguan virus pada otaknya. Tidak ada unsur kekerasan,” tegas Kapuspen Kemendagri, Reydonnyzar Moenek saat dihubungi koran ini tadi malam.

Ditanya berkali-kali soal dugaan ada penganiayaan, berkali-kali pula birokrat yang akrab dipanggil Donny itu membantahnya. Disebutkan, setiap acara wisuda di Kampus Jatinangor, Mendagri Gamawan Fauzi selalu menekankan agar model-model kekerasan di kampus calon pamong praja itu ditinggalkan.
“Mendagri menegaskan, jika masih ada kekerasan, tiada ampun, pasti dipecat. Sekali lagi, meninggalnya Yudhi Siregar murni karena sakit, bukan karena ada penganiayaan,” tegasnya lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Donny atas nama pribadi, kemendagri dan IPDN, menyampaikan ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Yudhi Siregar.| Sumut Pos
Lebih baru Lebih lama